PULAU LOMBOK

Informasi Umum

Pulau Lombok merupakan sebuah pulau di kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara yang dipisahkan oleh Selat Lombok dari Pulau Bali disebelah barat dan Selat Alas dari Pulau Sumbawa di sebelah timur yang menjadi bagian wilayah dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) meliputi 2 pulau besar yaitu Lombok dan Sumbawa, Pulau Lombok sendiri terdiri dari 1 Kota Madya yaitu Mataram yang sekaligus merupakan Ibu Kota dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan  4 Kabupaten yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur serta Lombok Utara. Secara geografis Pulau Lombok terletak di titik koordinat 8.565’S 116.351’E  dengan luas wilayah 4.514,11 km2 dimana Selat Lombok sebagai penanda batas flora dan fauna Asia. Mulai dari Pulau Lombok ke arah timur, flora dan fauna lebih menunjukkan kemiripan dengan flora dan fauna yang dijumpai di Australia dari pada Asia.  Pada abad ke-19 seorang ilmuwan yang berasal dari Inggris Alfred Russel Wallace  adalah sosok yang pertama kali menyatakan hal ini sehingga untuk memberikan penghormatan padanya maka batas ini disebut Garis Wallace. Topografi pulau ini didominasi oleh gunung berapi yaitu Gunung Rinjani yang ketinggiannya mencapai 3.726m  di atas permukaan laut dan menjadikannya yang ketiga tertinggi di Indonesia. Pada tahun 1997 berdasarkan Surat Keputusan Menhut No. 280/Kpts-VI/1997  kawasan Gunung Rinjani ditetapkan sebagai Taman Nasional dengan luas definitif 41.330h dengan tujuan untuk menjamin kawasan ini tetap lestari. Pulau Lombok berdasarkan sensus penduduk 2014 memiliki jumlah populasi 3.311.044 dimana 85 % penduduk pulau ini adalah suku Sasak dan sisanya berasal dari suku Bali, Samawa, Mbojo, Jawa, Bugis , Arab dan Tionghoa. Disamping Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, penduduk Pulau Lombok terutama suku Sasak menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa utama dalam percakapan sehari-hari. Selain bahasa Sasak sebagai bahasa percakapan sehari-hari, bahasa Bali juga sering digunakan sebagai bahasa sehari-hari terutama di Kota Mataram, Lombok Barat dan Utara karena diwilayah ini terdapat cukup banyak perkampungan suku Bali. Secara aksara bahasa Sasak sangat mirip dengan Jawa dan Bali, sama-sama menggunakan sistem aksara Ha Na Ca Ra Ka. Tetapi secara pelafalan, bahasa Sasak lebih dekat dengan Bali. Menurut etnolog yang mengumpulkan semua bahasa di dunia, bahasa Sasak merupakan keluarga dari Austronesian Malayu-Polinesian, campuran Sunda-Sulawesi dan Bali-Sasak. Bila diperhatikan secara langsung, bahasa Sasak yang berkembang di Lombok ternyata sangat beragam, baik dialek maupun kosakatanya. Ini sangat unik dan bisa menunjukkan banyaknya pengaruh dalam perkembangannya. Secara umum, bahasa Sasak bisa diklasifikasikan ke dalam: Kuto-Kute (Lombok Utara), Ngeto-Ngete (Lombok Tenggara), Meno-Mene (Lombok Tengah), Ngeno-Ngene (Lombok Tengah), dan Mriak-Mriku (Lombok Selatan). Mayoritas penduduk Pulau Lombok terutama suku Sasak beragama Islam, agama kedua terbesar yang dianut di pulau ini adalah agama Hindu yang dipeluk oleh para penduduk keturunan Bali dan sisanya penganut Kristen, Buddha serta Konghuchu. Di Kabupaten Lombok Utara tepatnya di daerah Bayan terutama di kalangan mereka yang berusia lanjut masih dapat dijumpai para penganut aliran Islam Wetu Telu (waktu tiga) yang merupakan sistem kepercayaan sinkretisme hasil dari akulturasi dari ajaran Islam, Hindu, Buddha, unsur animisme, dinamisme  dan antropomorfimisme. Sistem kepercayaan sinkritisme tercermin pula pada beberapa naskah lontar yang berhasil ditemukan di Lombok, banyak diantara naskah lontar tersebut yang isinya dimulai dengan lafal “ Bismillah “ tetapi kelanjutan dari isinya merupakan ajaran Hindu dan Buddha. Penyebab utama munculnya Islam Wetu Telu adalah proses islamisasi yang belum tuntas dilakukan oleh para penyebar islam pada saat itu.

Sejarah dan Tradisi

Lombok dan Sasak adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan, kata Lombok adalah sebutan untuk pulaunya sedangkan Sasak adalah suku yang menghuni pulaunya. Kata Lombok “ Lomboq “ berasal dari bahasa Sasak yang memiliki makna lurus sedangkan kata Sasak secara etimologi, menurut Goris S., berasal dari kata sah yang berarti “pergi” dan shaka yang berarti “leluhur”. Dengan begitu, Sasak berarti “pergi ke tanah leluhur”. Dari etimologi ini diduga leluhur orang Sasak adalah sama dengan orang Jawa, ini terbukti pula dari aksara Sasak yang oleh penduduk Lombok disebut “Jejawan”, yakni aksara Jawa, yang selengkapnya diresepsi oleh kesusastraan Sasak. Suku Sasak adalah kelompok etnik mayoritas di Lombok. Populasi mereka kurang-lebih 85 % dari keseluruhan penduduk Lombok. Suku-suku lain, seperti Bali, Sumbawa, Mbojo, Jawa, Bugis,  Arab dan Tionghoa merupakan pendatang. Selain beragamnya jumlah etnik, Pulau Lombok juga memiliki beragam budaya, bahasa, dan agama. Masing-masing suku berbicara berdasarkan bahasanya sendiri-sendiri.

Kerajaan-kerajaan Lombok

Tantangan terbesar dalam menulis sejarah suatu kerajaan adalah terbatasnya jumlah informasi, data dan fakta yang tersedia. Informasi, data dan fakta berkenaan dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Lombok baik yang berupa prasasti, naskah maupun  wujud fisik sebagai bukti kuat tentang adanya kerajaan sangatlah minim sehingga  informasi, data dan fakta yang ada hanya mampu untuk menunjukan bahwa kerajaan-kerajaan tersebut pernah eksis sebelumnya. Tetapi informasi, data dan fakta yang ada belum mampu mengungkapkan kebenaran sejarah tentang kerajaan-kerajaan di Pulau Lombok. Ada beberapa naskah yang berhasil ditemukan seperti Babad Lombok dan Babad Suwung. Menurut Babad Lombok, kerajaan pertama di Lombok adalah Kerjaan Laeq sedangkan menurut Babad Suwung bahwa Kerajaan Suwung merupakan kerajaan pertama di Lombok yang diperintah oleh seorang raja bernama Betara Indera. Kalau harus merunut tentang urutan berdirinnya kerajaan-kerajaan di    Lombok, dengan catatan ini bukan satu-satunya versi yg berkembang sebagai berikut :

Kerajaan Laeq adalah kerajaan pertama di Pulau Lombok, menurut Babad Lombok kerajaan ini berlokasi di kecamatan Sambalia, Lombok Timur. Dalam perkembangannya kemudiaan terjadi migrasi dimana masyarakat Laeq berpindah dan membangun kerajaan baru yaitu Kerajaan Pamatan di Aikmel yang lokasinya berdekatan dengan Gunung Rinjani. Suatu ketika Gunung Rinjani meletus yang mengakibatkan hancurnya desa dan Kerajaan Pamatan. Para penduduknya menyebar menyelamatkan diri kewilayah aman, dari kejadian dan penyebaran inilah menandai berakhirnya Kerajaan Pamatan. Setelah berakhirnya Kerajaan Pamatan barulah muncul Kerajaan Suwung yang berletak di daerah Perigi. Setelah Kerajaan Suwung berakhir, kemudian muncullah Kerajaan Lombok. Seiring perjalanan waktu, Kerajaan Lombok pun mengalami kehancuran akibat serangan tentara Majapahit pada tahun 1357 M. Raden Maspati, penguasa Kerajaan Lombok pada saat itu berhasil melarikan diri kedalam hutan. Ketika tentara Majapahit kembali ketanah Jawa, Raden Maspati keluar dari hutan dan mendirikan kerajaan baru dengan nama Batu Parang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Selaparang. Eksistensi Kerajaan Selaparang cukup lama dan masa kekuasaannya terbagi dalam 2 periode yaitu :

Periode pertama : periode masuknya agama Hindu di nusantara yang berlangsung dari abad ke-13 M dan berakhir akibat ekspedisi Majapahit. Ekspedisi Majapahit dimulai pada tahun 1343 M, dibawah pimpinan Mpu Nala. Mpu Nala dikirim oleh Mahapatih Gajah Mada sebagai bagian dari usahanya untuk mempersatukan nusantara dibawah bendera Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan “ Sumpah Palapa “. Ekspedisi Majapahit meninggalkan jejak kerajaan Gelgel di Bali, sedangkan di Lombok berdiri 4 kerajaan utama yang saling memiliki ikatan kekerabatan yaitu Kerajaan Bayan di barat, Kerajaan Selaparang di timur, Kerajaan Langko di tengah dan Kerajaan Pejanggik di selatan. Selain ke-4 kerajaan tersebut terdapat beberapa kerajaan kecil seperti Kerajaan Parwa dan Sokong Samarkaton serta beberapa desa kecil seperti Pujut, Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, Kuripan dan Kentawang. Seluruh kerajaan-kerajaan dan desa-desa ini takluk dibawah pemerintahan Kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, kerajaan-kerajaan dan desa-desa ini kemudian menjadi wilayah yang merdeka.

Periode kedua : periode masuknya Islam di Pulau Lombok berawal dari runtuhnya Kerajaan Majapahit dan merdekanya kerajaan-kerajaan dan desa-desa yang sebelumnya takluk dibawah pemerintahan Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang paling berkembang pesat paska runtuhnya majapahit adalah Kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok, Lombok Timur. Pusat kerajaan ini terletak di Teluk Lombok yang strategis dan kaya akan sumber mata air menyebabkan kerajaan ini banyak di kunjungi oleh para pedagang dari berbagai negeri seperti Palembang, Banten, Gresik dan Sulawesi. Berkat perdagangan yang ramai Kerajaan Lombok berkembang dengan pesat. Ketika itu Kerajaan ini di pimpin oleh seorang raja bernama Prabu Mumbul. Setelah wafatnya Prabu Mumbul Kerajaan Lombok deperintah oleh Prabu Rangkesari. Dimasa pemerintahan Prabu Rangkesari ini, putera Sunan Ratu Giri yang bernama Pangeran Prapen datang ke Kerajaan Lombok untuk melakukan islamisasi. Berdasarkan Babad Lombok, islamisasi ini merupakan upaya Raden Paku ( Sunan Ratu Giri ) dari Gresik untuk menyebarkan Islam diwilayah nusantara. Proses islamisasi yang dilakukan Pangeran Prapen diawali dengan usaha penaklukan. Setelah sebagian orang-orang Lombok mulai memeluk Islam, Pangeran Prapen melanjutkan upaya islamisasi ke Sumbawa dan Bima. Sepeninggal Pangeran Prapen dari Pulau Lombok menuju Pulau Sumbawa, masyarakat Lombok kembali ke agama asal. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kaum wanita di Lombok yang belum memeluk Islam, sehingga berhasil mempengaruhi anggota keluarganya agar kembali keagama asal.   Setelah berhasil mendapatkan kemenangan di Sumbawa dan Bima, Pangeran Prapen kembali ke Lombok. Dengan bantuan Raden Sumuliya dan Raden Sulut, Pengeran Prapen kemudian menyusun strategi dakwah baru untuk mengislamkan Lombok dan berhasil mencapai kesuksesan. Sebagian besar wilayah Lombok berhasil diislamkan dan masyarakat yang menolak masuk islam menyingkir  ke gunung-gunung atau menjadi orang taklukan. Selain Islamisasi, peristiwa besar lainnya yang terjadi dimasa Prabu Rangkesari adalah pemindahan kerajaan, dari Labuhan Lombok ke desa Selaparang. Pemindahan ibu kota ini merupakan inisiatif  Patih Banda Yuda dan Patih Singa Yuda dengan alasan letak Selaparang lebih strategis dan aman dibandingkan dengan Labuhan Lombok. Kerajaan Lombok ( Selaparang ) ini terus berkembang, sehingga Kerajaan Gelgel di Bali merasa mendapat pesaing. Karena itu, Gelgel yang merasa sebagai pewaris kebesaran Majapahit kemudian menyerang  Kerajaan Lombok ( Selaparang ) pada tahun 1520 M, namun serangan ini berhasil digagalkan. Walaupun Kerajaan Selaparang berhasil menggagalkan serangan yang dilakukan Kerajaan Gelgel namun wilayah kerajaan ini belum sepenuhnya aman dari ancaman eksternal. Dalam perkembangan kerajaan-kerajaan di Lombok pada tahun 1622 M muncullah kerajaan baru yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan. Dalam usaha untuk mengatasi ancaman yang ada kemudian Kerajaan Selaparang menempatkan sepasukan kecil tentara untuk menjaga perbatasan dibawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa. Tetapi diakhir eksistensinya ternyata kehancuran Kerajaan Selaparang justru disebabkan oleh faktor  ekternal yaitu serangan yang dilakukan Kerajaan Karang Asem. Akibat serangan tersebut Kerajaan Selaparang rata dengan tanah, sementara keluarga kerajaan semuanya terbunuh.